Sinar portal teleportasi memancar terang di ruang pertemuan Sekte Pedang Es, memantulkan cahaya ke dinding es dan lantai batu yang dingin. Aura energi yang terpancar begitu tenang namun mengandung tekanan tak terlihat, membuat Bai Qianyu, sang Ketua Sekte, terdiam menatap pemandangan yang tidak dia duga sebelumnya. Dalam hati, penyesalan menelusup perlahan.

Awalnya ia menolak ikut dengan alasan sektenya masih dalam kondisi rawan setelah serangan mendadak, mengira perjalanan akan panjang dan memakan waktu berhari-hari. Namun kini, melihat pusaran cahaya yang terbuka begitu stabil, hatinya bergetar. Andai saja ia tahu perjalanan bisa secepat ini, mungkin ia akan mempertimbangkan untuk ikut.

"Bai Qianyu, jangan lupa kabari kami jika ada masalah. Untuk saat ini, kami akan mendampingi Tuan Xiao lebih dulu," ucap Leluhur Han Tiansheng sambil melangkah ke arah portal. Suaranya terdengar dalam dan tenang, namun ada rasa hormat yang jelas kepada sosok muda yang berdiri di samping mereka.

Bai Qianyu mengangguk, menatap kedua leluhur sektenya yang melangkah masuk ke pusaran cahaya bersama pasangan misterius itu. Sosok Lynx masih tampak santai, bahkan sedikit tersenyum, seolah apa yang dilakukannya hanyalah membuka pintu biasa, bukan sebuah formasi teleportasi tingkat tinggi yang bahkan para Immortal enggan lakukan sembarangan karena menguras banyak energi.

Ketika portal itu menutup, menyisakan ruangan yang kembali sunyi, Bai Qianyu menghela napas panjang. Dalam hati ia membatin, "Aku yakin leluhur akan baik-baik saja. Kedua anak muda itu… tidak, dua sosok luar biasa itu, jelas bukan orang jahat. Aura mereka terlalu tenang untuk menyembunyikan niat buruk."

Sementara itu, di Dunia Kecil, kesedihan melingkupi setiap sudut. Udara pengap bercampur dengan aroma obat dan tangisan yang tertahan. Ratusan keluarga tengah berjuang menghadapi penderitaan yang tidak mereka mengerti, sementara ribuan penduduk lainnya terbaring lemah, wajah pucat dan napas tersengal. Sejak efek ramuan yang di berikan para penyihir bereaksi, kondisi mereka kian kritis.

Lala, dengan mata merah karena kurang istirahat, terus bergerak di antara deretan tubuh yang diinfus. Tangannya gemetar menahan lelah, tapi ia tidak berhenti. Pil-pil yang ditinggalkan Lynx sebelum keberangkatannya menjadi satu-satunya harapan mereka saat ini. Pil-pil tersebut di campurkan kedalam cairan infus untuk mencegah efek obat yang terlalu kuat dan dapat membahayakan manusia biasa seperti mereka.

"Lala… persediaan cairan infus kita mulai habis. Kepala suku belum juga kembali. Apa yang harus kita lakukan?" suara Jelita terdengar serak. Ia berlutut di samping seorang wanita muda yang nyaris kehilangan kesadaran, sambil mengusap keringat di dahi wanita itu. "Kalau begini terus, mereka tidak akan bertahan."

Lala terdiam sesaat, otaknya berputar cepat. Menurut perhitungannya, mereka semua hanya punya waktu beberapa jam lagi sebelum subuh datang. Selama beberapa hari terakhir sejak suku Surya ditemukan, ia meneliti kondisi para korban dan menggabungkan data dengan kesaksian para penduduk yang sempat ditawan. Kesimpulan yang ia dapat sungguh mencengangkan. Dalam tubuh para penduduk itu, bersemayam sejenis parasit halus yang tidak bisa dideteksi oleh persepsi spiritual biasa dan kemungkinan besar berasal dari tempat para penyihir tersebut berasal. Saat para penduduk di tahan, setiap beberapa hari para penyihir akan memberikan ramuan khusus agar parasit itu tetap tenang dan tidak menyerang inangnya.

Sekarang, tanpa ramuan itu, parasit mulai mengamuk. Setiap detik yang terlewat berarti nyawa ribuan orang tergantung di ujung benang. Lala memejamkan mata, menahan air mata yang nyaris jatuh. "Lynx… cepatlah kembali. Hanya kamu yang bisa mengubah keadaan ini."

Di luar ruang dimensi itu, cahaya portal kembali berpendar. Empat sosok muncul di tengah desa Surya. Angin membawa debu halus menari di sekitar kaki mereka. Kedua leluhur Sekte Pedang Es sontak tercengang.

Tidak ada salju. Tidak ada dingin. Tanah yang mereka pijak berbeda sama sekali dengan tanah benua Beihan.

Mereka saling bertukar pandang, lalu secara naluriah melepaskan persepsi spiritual mereka, menyapu seisi tempat. Namun apa yang mereka rasakan justru menambah keterkejutan. Rumah-rumah terlihat berderet rapi, namun aura kehidupan nyaris tak ada. Hanya beberapa titik-titik kehidupan yang mereka rasakan menandakan tempat ini sudah ditinggalkan oleh penghuninya.

"Nyonya Xiao… di mana sebenarnya kita sekarang?" tanya Leluhur Xue Yuning, suaranya mengandung keraguan sekaligus rasa keheranan.

Leena menoleh dan menjawab dengan nada serius, "Leluhur, ini adalah Desa Surya. Tempat tinggal kami… Semoga kalian bisa membantu kami untuk menyelamatkan para penduduk."

Leluhur mengangguk pelan, namun rasa heran mereka bertambah saat Leena menoleh ke arah lain, di mana sebuah portal lain terbuka lebar, memancarkan cahaya lembut berwarna ungu keperakan. Tanpa banyak bicara, mereka melangkah masuk mengikuti Lynx.

Pemandangan di balik portal membuat kedua leluhur itu terdiam membeku. Mereka berdiri di tengah lapangan yang luas dengan sebuah bangunan besar terlihat menonjol dengan design unik yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Ribuan penduduk terbaring di lantai, dengan sebuah benda menggantung disisi, terhubung ke badan mereka dengan selang yang menancap di lengan. Sebagian besar dari mereka menggeliat lemah, suara erangan kesakitan dari para penduduk yang terbaring dan suara tangis orang-orang yang merawat menggema, menghantam perasaan mereka lebih keras daripada badai es mana pun.

Kini mereka memahami mengapa aura kehidupan yang mereka rasakan begitu sedikit. Semua penduduk Desa Surya dikumpulkan di tempat ini. Mata Leluhur Han Tiansheng berkilat ngeri, lalu menatap langit-langit ruang dimensi. Dari tekanan dan ketebalan qi spiritual, jelas ini bukan dunia nyata.

"Ini… ruang dimensi berdiri sendiri…" gumam Xue Yuning lirih, matanya melebar.

Bagi dua Immortal yang sudah hidup ratusan tahun sekalipun, pemandangan di depan mata mereka meninggalkan kesan mendalam. Mereka baru sadar, dua sosok muda yang mereka kira sekadar penyelamat sekte, sebenarnya membawa beban ribuan penduduk di pundak mereka.

"Kepala suku, anda datang!"

Suara salah satu penduduk yang pertama kali melihat kedatangan Lynx terdengar bergetar oleh rasa haru. Mata lelaki itu memancarkan cahaya penuh harapan, seolah beban berat yang menekan dadanya selama berhari-hari tiba-tiba terangkat. Teriakan itu menyebar bagaikan api di padang kering.

Para penduduk yang mendengar segera menoleh. Beberapa di antara mereka berlari tertatih, menembus kerumunan sambil mengusap air mata. Tangan-tangan yang kurus dan bergetar menggapai lengan Lynx, memohon dengan suara serak yang sarat keputusasaan.

"Kepala suku, tolong... anakku... dia kesakitan, dia menangis sepanjang hari," ucap seorang ibu yang wajahnya pucat dan basah oleh air mata.

"Anakku juga... tolong selamatkan dia, kepala suku," seorang ayah berlutut, kedua tangannya mencengkeram kaki Lynx seolah itu satu-satunya pegangan hidup yang tersisa.

Jeritan dan rintihan memohon itu menggema di seluruh desa, menembus jantung setiap orang yang mendengar. Udara di sekitar Lynx dipenuhi rasa putus asa yang tebal, bercampur harapan yang rapuh.

Lala dan para tetua yang melihat kedatangan Lynx segera menghampiri. Tatapan mereka beralih pada dua sosok asing yang berdiri di belakangnya. Di kejauhan, Narendra, Arkha, dan Kael hanya bisa melirik sekilas dari balik kerumunan. Mereka tidak bisa menghampiri karena sedang memapah para penduduk yang pingsan dan mengganti infus bagi mereka yang sekarat.

"Kepala suku, anda kembali..." suara tetua Rasyid terdengar serak namun hangat. Tubuhnya yang renta tampak lelah, wajahnya berlumur debu dan keringat. "Siapa mereka yang bersama anda?" lanjutnya, nadanya lemah tapi penuh rasa ingin tahu.

Lynx menatap seluruh penduduk yang berkumpul, matanya berkilat tajam namun suaranya tenang. Ia mengangkat tangannya perlahan, dan suaranya bergema ke setiap sudut desa, seperti membawa kekuatan yang menenangkan hati mereka.

"Semuanya, dengarkan aku," ucap Lynx. "Kami telah kembali... dan aku membawa dua orang Leluhur dari Sekte Pedang Es, Leluhur Xue Yuning dan Han Tiansheng. Mereka datang untuk membantu kita. Tetaplah bertahan, jangan menyerah. Kita akan menyelamatkan semuanya."

Kata-kata itu bagaikan matahari yang menembus kabut. Para penduduk yang tadinya hampir tenggelam dalam rasa putus asa kini menatap Lynx dengan mata yang berkilau oleh secercah harapan. Beberapa dari mereka terisak, ada pula yang menunduk bersujud, seolah beban di dada mereka sedikit terangkat.

Namun berbeda dengan para Leluhur Pedang Es. Wajah Han Tiansheng dan Xue Yuning memucat saat mata mereka menyapu keadaan sekitar. Mereka saling bertatapan, tak mampu menutupi keterkejutan dan kegelisahan. Nafas mereka terasa berat, seakan beban berat tidak dapat mereka tanggung menghisap ketenangan hati.

Leena yang peka menangkap perubahan ekspresi itu. Ia segera mendekat, suaranya pelan namun tegas. "Leluhur, ikutlah dengan kami. Kita harus membahas cara menyelamatkan mereka."

Tanpa banyak kata, ia memimpin mereka menuju bangunan laboratorium milik Lala. Para tetua Suku Surya, termasuk Rasyid dan Jelita, mengikuti dari belakang dengan wajah tegang.

Begitu mereka memasuki bangunan itu, kedua leluhur sontak tertegun. Pandangan mereka menyapu sekeliling ruangan yang dipenuhi benda-benda asing yang tidak pernah mereka lihat sepanjang hidup. Dinding bangunan yang terbuat dari material halus berkilau memantulkan cahaya lembut. Di beberapa meja panjang, tabung-tabung kaca berisi cairan berwarna biru muda berpendar samar, dan di sudut ruangan berdiri kotak-kotak bercahaya yang menampilkan gambar bergerak para penduduk di luar bangunan.

Xue Yuning melangkah mendekati salah satu layar bercahaya itu, matanya membelalak penuh takjub. "Ini... benda apa ini?" bisiknya, hampir tak terdengar.

Han Tiansheng menatap sekeliling dengan napas tertahan lalu menatap layar monitor di depannya. "Tempat ini... seolah bukan milik dunia kita. Semua terasa asing dan berbeda..."

